(0362) 21843
disperkimta@bulelengkab.go.id
Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan

Mengolah Sampah Organik Menjadi Kompos Di Rumah Bersama Bankl Sampah Hijau Daun Disperkimta

Admin disperkimta | 23 September 2022 | 22 kali

MENGOLAH SAMPAH ORGANIK MENJADI KOMPOS DI RUMAH

BERSAMA BANK SAMPAH HIJAU DAUN DISPERKIMTA

Putu Desta Sativana  

 

Sampah organik sebagai bagian dari sampah rumah tangga membutuhkan pengelolaan yang tepat agar tidak berdampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan. Pengelolaan sampah organik yang tepat akan memberikan manfaat untuk masyarakat dan lingkungan. Bupati Buleleng (2019) menyatakan bahwa sampah organik (degradable) adalah sampah yang bisa mengalami pelapukan (dekomposisi) dan terurai menjadi bahan yang lebih kecil dan tidak berbau.

Menurut Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng (2019) bahwa sampah organik dapat digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu sebagai berikut.       

1.       Sampah Organik Basah

Sampah organik basah adalah sampah organik yang banyak mengandung air, contohnya sisa sayur, kulit buah, buah busuk dan ampas teh/kopi.  

2.       Sampah Organik Kering

Sampah organik kering adalah sampah organik yang sedikit mengandung air, contohnya kayu, ranting pohon dan daun-daun kering.    

Sampah organik basah yang mengandung banyak air akan lebih berbau daripada sampah organik kering. Selain itu, sampah organik basah yang mengandung banyak air akan lebih banyak memiliki mikroorganisme daripada sampah organik kering. Sehingga sampah organik basah cenderung lebih cepat terurai dibandingkan dengan sampah organik kering. Tetapi, sampah organik basah dan sampah organik kering dapat diolah menjadi kompos.    

A.     Definisi Kompos

Kompos adalah senyawa organik yang telah terurai dan didaur ulang sebagai pupuk dan dapat berperan sebagai agen yang mampu mengubah fisio-kimia tanah. Kompos berasal dari kumpulan senyawa organik yang telah membusuk, misalnya sampah rumah tangga, padi dan berbagai macam sampah agrikultur lain (Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, 2021).

Pupuk kompos adalah pupuk yang dihasilkan dari pelapukan bahan organik melalui proses biologis dengan bantuan organisme pengurai. Organisme pengurai atau dekomposer bisa berupa mikroorganisme ataupun makroorganisme. Mikroorganisme dekomposer bisa berupa bakteri atau jamur. Sedangkan makroorganisme dekomposer yang paling populer adalah cacing tanah. Berbagai varian dekomposer beserta metode pembuatannya banyak ditemukan. Sehingga pupuk kompos yang dihasilkan banyak ragamnya, misalnya pupuk bokashi, vermikompos, pupuk organik cair dan pupuk organik tablet. Pupuk kompos bisa dibuat dengan mudah, bisa dibuat sendiri dari limbah rumah tangga, seperti pupuk bokashi (Ayu, 2014).           

B.     Kandungan Unsur Hara Kompos

Kandungan unsur hara didalam kompos cukup lengkap, meliputi unsur hara makro (N, P, K, Ca, Mg, S) dan unsur hara mikro (Fe, Cu, Mn, Mo, Zn, Cl, B) yang sangat diperlukan tanaman. Namun kandungan unsur hara tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan kandungan unsur hara tertentu yang terdapat pada pupuk kimia buatan. Oleh karena itu, aplikasi kompos biasanya diperlukan dalam jumlah yang banyak. Selain kandungan unsur hara, keunggulan lain kompos adalah kandungan senyawa organik, seperti asam humat dan asam sulfat yang bermanfaat untuk memacu pertumbuhan tanaman (Soedarmanto, 2019).

Menurut Yudi (2019) bahwa unsur hara dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu sebagai berikut.

1.       Unsur hara makro primer adalah unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah banyak seperti: Nitrogen (N), Pospor (P) dan Kalium (K).

2.       Unsur hara makro sekunder adalah unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah kecil seperti: Belerang (S), Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg).

3.       Unsur hara mikro adalah unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit seperti: Besi (Fe), Tembaga (Cu), Seng (Zn), Klor (Cl), Boron (B), Mangan (Mn) dan Molibdenum (Mo).  

C.     Manfaat Kompos

Menurut Yudi (2019) bahwa manfaat kompos dapat ditinjau dari beberapa aspek yaitu aspek ekonomi, aspek lingkungan dan aspek bagi tanah/tanaman sebagai berikut.         

1.       Aspek Ekonomi

a.       Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah;

b.       Mengurangi volume/ukuran limbah;

c.       Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada asalnya.

2.       Aspek Lingkungan

a.       Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah;

b.       Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan.

3.       Aspek Bagi Tanah/Tanaman

a.       Meningkatkan kesuburan tanah;

b.       Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah;

c.       Meningkatkan kapasitas serap air tanah;

d.       Meningkatkan aktivitas mikroba tanah;

e.       Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi dan jumlah panen);

f.        Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman;

g.       Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman;

h.       Meningkatkan retensi/ketersediaan hara didalam tanah;

i.         Meningkatkan pH pada tanah asam.

D.     Fase Kompos

Selama proses pengomposan, temperatur, pH dan ketersediaan nutrient akan selalu mengalami perubahan secara konstan, sehingga faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi tipe mikroorganisme, diversitas spesies dan laju aktivitas metabolit. Degradasi material limbah pada kompos mengalami tiga fase yaitu sebagai berikut (Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, 2021). 

1.       Fase Mesofilik

Tahap inisiasi penguraian dan berlangsung selama satu minggu atau kurang dari 10 hari dengan temperatur suhu berkisar antara 15 - 45°C dimana gula dan karbohidrat sederhana lainnya dimetabolisme secara cepat.

2.       Fase Termofilik

Tahap kedua yang berlangsung selama dua minggu dengan peningkatan temperatur suhu menjadi 50 - 75°C yang diiringi dengan akselerasi pemecahan protein, lemak dan karbohidrat kompleks.

 

3.       Fase Pendinginan dan Maturasi

Pada fase pendinginan terjadi penurunan aktivitas mikroorganisme sampai 50% tetapi diversitas taksonomi dan metabolitnya akan meningkat, sedangkan pada fase maturasi terjadi degradasi senyawa resistan dan mengubahnya menjadi humus.

E.      Metode Pembuatan Kompos  

Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2021) bahwa terdapat beberapa metode pembuatan kompos sederhana yang biasa digunakan pada umumnya yaitu sebagai berikut.   

1.       Metode Indore  

-          Sampah organik disebar merata dengan lapisan setebal 10 – 15 cm di lubang yang digali dengan kedalaman 1 m, lebar 1,5 - 2 m dan panjang disesuaikan;

-          Limbah kering dengan kotoran ternak dan tanah ditambahkan dengan perbandingan 4 : 2 : 1 dalam lubang pengomposan;  

-          Pada setiap lapisan disebarkan cairan bubur yang terbuat dari 4,5 kg kotoran, 3,5 kg urine-tanah dan 4,5 kg inokulum yang diambil dari lubang pengomposan berumur 15 hari;

-          Untuk menghindari bau dan serangga maka tumpukan lapisan dapat ditutup dengan lapisan tanah atau serpihan kayu;  

-          Untuk memastikan kondisi aerobik tetap terjaga maka dilakukan pembalikan pada interval waktu tertentu yaitu pertama dapat dilakukan pada hari ke 15 setelah pengisian, kedua setelah 15 hari, dan ketiga setelah 1 bulan;

-          Gundukan dibiarkan tidak terganggu selama sekitar 8 hingga 9 bulan dengan tingkat kelembaban sekitar 40 – 50%.  

2.       Metode Heap 

-          Di daerah dengan curah hujan tinggi, kompos dapat dibuat tumpukan di atas permukaan tanah dan dilindungi peneduh dengan tiang pancang dibuat dengan dimensi 2m x 2m x 1,5m (P x L x T);

-          Tumpukan diawali dengan lapisan setebal 20 cm dari material berkarbon seperti daun, jerami, serbuk gergaji, serpihan kayu dan batang jagung cincang, selanjutnya ditutup dengan material bernitrogen setebal 10 cm seperti rumput segar, gulma atau sisa tanaman kebun, kotoran atau lumpur kotoran yang dicerna (segar atau kering) sampai tumpukan setinggi 1,5m dan dibasahi sehingga terasa lembap tetapi tidak becek;

-          Untuk menahan panas maka tumpukan ditutup tanah atau jerami dan dibalikkan dengan interval enam dan dua belas minggu;  

-          Proses ini membutuhkan waktu sekitar empat bulan.   

3.       Vermikompos

-          Vermikompos adalah metode dimana kompos atau campuran pupuk organik dibuat dengan menggunakan cacing tanah;

-          Ini merupakan proses degradasi terkontrol dari limbah organik yang langsung dikonsumsi cacing tanah sehingga membantu dalam daur ulang limbah organik;  

-          Untuk menyiapkan vermikompos dapat digunakan tangki plastik atau beton sesuai ketersediaan (ukuran berdasarkan jumlah bahan baku yang tersedia);

-          Kumpulkan biomassa kering (sampah taman, kotoran hewan, sampah kota dan lain-lain) dan

 

potong-potong serta campur dengan kotoran sapi dengan perbandingan 1 : 3 dan sisihkan selama 15 - 20 hari untuk dekomposisi parsial;

-          Tambahkan lapisan tipis tanah/pasir (2 - 3 inci) di dasar tangki dan tambahkan alas dengan kotoran sapi yang sudah membusuk sebagian dan campuran sampah kering;

-